Derby Tyne Wear kembali menyisakan cerita panjang, kali ini dengan Sunderland berdiri sebagai pemenang dan Newcastle United pulang dengan wajah tertunduk. Bermain di Stadium of Light, laga yang dinanti selama hampir satu dekade di level Premier League itu berakhir dengan satu kepastian yaitu Sunderland menang derby dan kembali menegaskan dominasinya atas rival sekota.

Gol bunuh diri Nick Woltemade pada awal babak kedua menjadi pembeda dalam pertandingan yang berjalan keras, emosional, dan sarat tekanan. Namun, hasil akhir bukan sekadar soal skor tipis 1-0. Lebih dari itu, kemenangan ini memperpanjang rekor Sunderland yang belum tersentuh kekalahan dari Newcastle dalam 10 pertemuan liga, sekaligus membuka kembali luka lama bagi tim tamu.
Sunderland Menang Derby dan Memperpanjang Dominasi
Sunderland tampil dengan pendekatan yang disiplin sejak menit pertama. Mereka tidak menguasai bola secara dominan, tetapi mampu mengontrol tempo dan ruang dengan sangat efektif. Newcastle kesulitan menembus blok pertahanan tuan rumah, sementara Sunderland menunggu momen yang tepat untuk menekan.

Gol yang menentukan lahir pada menit ke-46 ketika Nick Woltemade salah mengantisipasi situasi dan justru mengirim bola ke gawangnya sendiri. Stadion meledak, dan sejak saat itu Sunderland bermain semakin matang. Kemenangan ini memastikan Sunderland menang derby di laga Premier League pertama melawan Newcastle sejak hasil imbang 1-1 pada 2016.
Secara klasemen, hasil tersebut juga berdampak besar. Sunderland naik ke peringkat ketujuh dan melewati Manchester United, meskipun Setan Merah masih memiliki satu pertandingan sisa. Sebaliknya, Newcastle justru terlempar ke papan tengah dan kembali disorot karena inkonsistensi performa.
Revanas yang Tertunda Sejak FA Cup
Pertemuan terakhir kedua tim sebelum laga ini terjadi pada Januari 2024 di ajang FA Cup. Saat itu, Newcastle asuhan Eddie Howe menang telak 3-0 di Stadium of Light dan mengabadikan momen dengan foto tim di depan suporter tandang.

Kini, hampir dua tahun berselang, Sunderland membalas dengan cara yang nyaris identik. Setelah peluit panjang dibunyikan, para pemain Black Cats berpose di lapangan dengan ekspresi penuh kepuasan. Gestur sederhana itu memiliki makna simbolis yang kuat, sekaligus menjadi penegasan bahwa Sunderland menang derby bukan hanya di papan skor, tetapi juga dalam narasi rivalitas.

Momen tersebut menjadi sorotan utama media Inggris, termasuk laporan dari Goal yang menyoroti bagaimana Sunderland benar-benar “menggosok garam” ke luka Newcastle lewat selebrasi tersebut.
Pendekatan Taktis dan Kematangan Sunderland
Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, menunjukkan kepiawaiannya dalam membaca pertandingan. Ia tidak memaksa timnya bermain terbuka, melainkan memilih pendekatan pragmatis yang efektif menghadapi Newcastle.
Menurut Le Bris, kemenangan ini adalah hasil dari kematangan dan kedewasaan timnya. Ia mengatakan kepada Sky Sports:
“Proud and happy. It was a derby and we were expected [to win] by our fans. This win is well deserved, we were mature and the lads were incredible. During the first half tactically it was really good, just small details about the shape, then it was a question of being more clinical in the final third. We had good control and some times were more patient.”

Ia juga menekankan bahwa kemenangan ini penting bukan hanya untuk tim, tetapi juga untuk komunitas dan wilayah:
“It’s good for the region, the club, the fans. We knew before it was a special game but we have to reset quickly as we have another tough challenge in Brighton in one week so let’s go again.“
Pendekatan ini membuat Sunderland terlihat nyaman tanpa bola, tetapi tetap berbahaya saat transisi. Inilah salah satu alasan mengapa Sunderland menang derby meski hanya mencatatkan sedikit peluang bersih.
Newcastle Kehilangan Arah di Momen Krusial
Di sisi lain, Newcastle tampil jauh dari harapan. Padahal, sebelum laga ini mereka tengah berada dalam tren positif setelah tidak terkalahkan dalam tiga pertandingan liga, termasuk kemenangan atas Manchester City.
Namun, semua momentum itu runtuh di Stadium of Light. Newcastle minim kreativitas, jarang mengancam, dan terlihat kalah dalam duel-duel penting. Kapten tim, Bruno Guimaraes, tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya.

Dalam wawancara pasca pertandingan yang dikutip oleh Goal, ia melontarkan kritik keras tanpa tedeng aling-aling:
“I’m very angry, I’m so embarrassed and I’m so frustrated. There was no crossing, no passing and no shooting. No nothing. It was a mess, in my opinion.“
Ia juga menyoroti masalah mentalitas tim dalam laga sebesar derby:
“You need to compete in a derby and we didn’t. The fans expect and deserve better.“

Kata-kata tersebut mencerminkan kondisi ruang ganti Newcastle yang sedang tidak baik-baik saja, sekaligus menunjukkan betapa kekalahan ini meninggalkan bekas mendalam.
Momen Penting Derby Tyne Wear
1. Gol Penentu dari Situasi Tak Terduga
Gol bunuh diri Nick Woltemade menjadi titik balik pertandingan. Meski tidak lahir dari skema ofensif Sunderland, momen ini menunjukkan tekanan yang terus mereka bangun sejak awal babak kedua.
2. Selebrasi yang Sarat Makna
Foto tim Sunderland usai laga menjadi simbol pembalasan atas FA Cup 2024. Gestur ini mempertegas rivalitas dan menambah bumbu emosional pada derby.
3. Amarah Kapten Newcastle
Pernyataan Bruno Guimaraes mencerminkan frustrasi internal. Kritik terbuka seperti ini jarang terjadi dan menandakan tekanan besar di tubuh Newcastle.
Eddie Howe dan Permintaan Maaf kepada Suporter
Pelatih Newcastle, Eddie Howe, memilih pendekatan yang lebih tenang. Ia mengakui timnya gagal tampil sesuai standar dan secara terbuka meminta maaf kepada para pendukung.
Dalam pernyataannya kepada Goal, Howe mengatakan:
“That will sting for a long time. We know our performance was off what we needed to be. I am disappointed for the supporters and sorry for our performance.“

Ia menambahkan bahwa masalah utama bukan pada usaha, melainkan kualitas di sepertiga akhir:
“The first 60 minutes, I don’t think we posed a threat at all. It wasn’t the finest day for any of our front players.“
Permintaan maaf ini menunjukkan kesadaran Howe bahwa tekanan publik semakin besar, terutama ketika Sunderland menang derby dan Newcastle kembali gagal memanfaatkan momen penting.
Dampak Hasil bagi Kedua Tim
1. Posisi Sunderland Semakin Stabil
Kemenangan ini membawa Sunderland naik ke papan atas dan meningkatkan kepercayaan diri jelang laga berikutnya.
2. Tekanan Bertambah di Newcastle
Kekalahan derby selalu memiliki efek ganda. Selain poin yang hilang, Newcastle juga harus menghadapi kritik internal dan eksternal.

3. Fokus Baru ke Kompetisi Lain
Newcastle kini mengalihkan perhatian ke Carabao Cup, sementara Sunderland mencoba menjaga momentum di liga.
Tribute Emosional untuk Gary Rowell
Derby ini juga diwarnai momen haru. Sebelum kick-off, kedua tim memberikan penghormatan kepada legenda Sunderland, Gary Rowell, yang meninggal dunia pada usia 68 tahun akibat leukemia.

Sunderland menyampaikan penghormatan resmi, sementara Newcastle menunjukkan respek dengan pesan belasungkawa di media sosial. Momen ini menambah dimensi emosional pada laga yang sejak awal sudah sarat makna.
Sunderland Menang Derby dan Pesan untuk Musim Ini
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Ia adalah pesan bahwa Sunderland tidak hanya kembali ke Premier League sebagai penggembira. Dengan pendekatan yang matang, disiplin, dan penuh kepercayaan diri, mereka mampu bersaing dan bahkan mendominasi rival lamanya.
Sebaliknya, Newcastle harus bercermin. Kekalahan ini memperlihatkan bahwa kualitas individu tidak selalu cukup jika tidak diiringi mentalitas dan konsistensi. Saat Sunderland menang derby, Newcastle justru terlihat kehilangan identitas yang selama ini dibangun.
Derby Tyne Wear kembali membuktikan satu hal sederhana tetapi brutal. Di laga seperti ini, sejarah, emosi, dan keberanian sering kali lebih menentukan daripada nama besar di atas kertas. Dan untuk saat ini, Sunderland jelas lebih siap memikul semuanya.