Ada satu momen yang membuat banyak pendukung Manchester United berhenti bersabar. Bukan kekalahan besar atau krisis hasil, melainkan sebuah tawa singkat dari Ruben Amorim ketika nama Kobbie Mainoo disebut dalam konferensi pers. Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi fans United, momen tersebut terasa seperti simbol dari masalah yang lebih dalam tentang identitas klub dan hubungan dengan akademinya sendiri.
Sejak awal kedatangannya, Amorim menekankan pentingnya karakter dan rasa memiliki terhadap klub. Ia menyebut bahwa yang utama bukan soal formasi, melainkan prinsip dan jati diri Manchester United. Namun seiring musim berjalan, pernyataan tersebut justru bertabrakan dengan realita di lapangan, terutama dalam cara sang pelatih memperlakukan salah satu talenta paling menjanjikan dari Carrington.
Mainoo dan Identitas Manchester United
Bagi Manchester United, pemain akademi bukan sekadar pelapis. Mereka adalah bagian dari DNA klub. Dari generasi Class of 92 hingga era modern, keberanian memainkan talenta muda selalu menjadi ciri khas. Karena itu, kemunculan Mainoo sebagai gelandang komplet dengan ketenangan di usia muda langsung memunculkan harapan besar.

Ia bukan sekadar produk akademi biasa. Pemain ini mencetak gol penting di final Piala FA, tampil menentukan dalam laga besar, dan bahkan dipercaya memperkuat timnas Inggris di Euro 2024. Dalam konteks tersebut, sulit bagi publik untuk memahami mengapa perannya di level klub justru semakin menyusut.
Fakta Menit Bermain yang Tak Terbantahkan
Statistik memberikan gambaran yang jauh lebih jujur dibanding narasi apa pun. Musim ini, Mainoo hanya mencatat rata rata sekitar 12 menit per pertandingan di Premier League. Ia belum sekalipun menjadi starter liga. Bahkan saat United unggul nyaman atas Wolves, kehadirannya baru terlihat di menit menit akhir.

Tepuk tangan meriah dari tribun justru menegaskan kontras antara kepercayaan fans dan keputusan pelatih. Padahal, dua musim lalu di stadion yang sama, pemain muda ini mencetak gol penentu kemenangan dan menjadi simbol keberanian United memainkan talenta sendiri.
Sistem Ruben Amorim yang Membatasi Peran
Pendekatan Amorim dikenal disiplin dan struktural. Namun di Manchester United, sistem tersebut justru menciptakan ruang yang sangat sempit bagi variasi peran lini tengah. Dengan skema dua gelandang, persaingan menjadi sangat terbatas.

Bruno Fernandes hampir tidak pernah tergantikan. Casemiro kembali mendapat kepercayaan penuh. Di titik inilah Mainoo terjebak. Bukan karena kualitasnya dipertanyakan, melainkan karena sistem tidak memberi ruang adaptasi. Ironisnya, hasil di liga tetap inkonsisten meski pendekatan ini terus dipertahankan.
Momen yang Mengubah Persepsi Publik
Ketegangan antara Amorim dan isu akademi mencapai puncaknya setelah hasil imbang melawan West Ham. Saat seorang jurnalis menyinggung Kobbie Mainoo, Amorim tertawa kecil sebelum menjawab. Reaksi tersebut menyebar luas dan memicu kemarahan banyak pendukung.
Dalam pernyataannya, Amorim mengatakan
“I understand what you are saying – you love Kobbie, he started for England. But that doesn’t mean that I need to put Kobbie in when I feel that I shouldn’t put Kobbie in, so it’s my decision. I just want to win, I don’t look who it is, I don’t care about that, I’m just trying to put the best players on the pitch.”

Pernyataan ini dikutip langsung dari laporan Goal.com. Bagi banyak fans, masalahnya bukan soal siapa yang dimainkan, melainkan mengapa pemain yang sudah terbukti justru tidak dipercaya secara berkelanjutan.
Akademi dalam Posisi Tersisih
Kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang posisi akademi di era Amorim. Dalam dialog dengan jurnalis BBC, sang pelatih menolak anggapan bahwa ia tidak mempercayai pemain muda. Namun pada saat yang sama, ia hanya menyebut satu nama sebagai contoh.

Ironisnya, pemain tersebut hampir tidak pernah menjadi bagian inti tim. Hal ini memunculkan kesan bahwa akademi hanya berfungsi sebagai simbol, bukan bagian aktif dari proyek jangka panjang Manchester United.
Dampak Langsung bagi Karier Sang Gelandang
Situasi ini menempatkan Kobbie Mainoo di persimpangan penting. Di satu sisi, ia masih menunjukkan loyalitas dan keinginan bertahan. Di sisi lain, minimnya menit bermain berisiko menghambat perkembangan di usia krusial.

Tidak mengherankan jika opsi peminjaman mulai dibicarakan. Beberapa mantan pemain United bahkan menyarankan langkah tersebut secara terbuka. Rio Ferdinand menilai sang pemain seharusnya segera mencari klub yang memberinya kepercayaan penuh. Paul Scholes juga menyampaikan kritik keras.
Faktor Kunci di Balik Keputusan Amorim
Beberapa alasan utama yang menjelaskan situasi ini antara lain
1. Sistem Dua Gelandang
Pendekatan taktis Amorim membatasi fleksibilitas peran lini tengah
2. Ketergantungan pada Pemain Senior
Pemain berpengalaman tetap diutamakan meski performa tim naik turun
3. Minimnya Rotasi Liga
Kesempatan lebih sering datang di laga Eropa atau saat kondisi darurat
4. Fokus Jangka Pendek
Keinginan menang cepat mengorbankan pengembangan aset jangka panjang
Tekanan dari Tribun yang Terus Membesar
Meski sempat merangkak naik di klasemen, performa United belum cukup konsisten untuk meredam kritik. Dalam situasi seperti ini, menyingkirkan pemain akademi justru memperbesar jarak emosional dengan pendukung.

Periode Natal dengan jadwal padat akan menjadi ujian nyata. Absennya beberapa pemain utama seharusnya membuka peluang. Namun hingga kini, belum ada sinyal jelas bahwa peran Mainoo akan berubah secara signifikan.
Di Antara Sistem dan Jiwa Klub
Pada akhirnya, Kobbie Mainoo bukan sekadar nama dalam daftar susunan pemain. Ia adalah simbol tarik menarik antara pendekatan pragmatis pelatih dan tradisi klub yang dibangun selama puluhan tahun.
Amorim mungkin yakin bahwa jalannya adalah yang paling efektif. Namun di Manchester United, kemenangan saja tidak pernah cukup. Cara mencapainya selalu menjadi bagian dari identitas. Selama Mainoo terus berada di pinggir, pertanyaan itu akan terus muncul, semakin keras, dan semakin sulit diabaikan.
One thought on “Mengapa Amorim Terus Mengabaikan Kobbie Mainoo”
Comments are closed.