Italia sedang bergerak cepat, dan alasannya bernama Honest Ahanor. Bek muda Atalanta itu baru berusia 17 tahun, tetapi dinamika di sekitarnya sudah menyerupai pemain mapan. Dari performa di Serie A hingga isu kewarganegaraan, semuanya bertemu di satu titik penting. Italia tidak ingin kecolongan talenta yang tumbuh di tanahnya sendiri.
Sejak mendapat menit bermain reguler di Atalanta, Honest Ahanor bukan lagi sekadar prospek. Ia menjadi simbol kegelisahan lama sepak bola Italia soal pemain keturunan, sistem, dan waktu yang sering datang terlambat. Artikel ini membedah mengapa Italia begitu ngotot, bagaimana perjalanan Ahanor sejauh ini, serta apa arti semua ini bagi masa depan Azzurri.
Awal yang Tak Sederhana
Honest Ahanor lahir di Aversa, Campania. Namun, karena kedua orang tuanya berasal dari Nigeria, ia belum bisa mendapatkan kewarganegaraan Italia penuh hingga berusia 18 tahun. Aturan ini membuatnya tertahan dari level tim nasional junior, meski sepanjang hidupnya dihabiskan di Italia.

Meski begitu, jalannya di sepak bola tidak pernah benar-benar terhambat. Pindah ke Genoa sejak bayi, Ahanor tumbuh lewat sistem pembinaan lokal sebelum direkrut akademi Genoa pada usia sangat muda. Sejak level junior, ia sudah dianggap berbeda. Perkembangannya bahkan disandingkan dengan Pietro Pellegri, salah satu produk paling menjanjikan Genoa dalam satu dekade terakhir.
Pada musim 2023/2024, ia bermain lintas kelompok umur dan ikut membawa tim U18 Genoa menjuarai kompetisi nasional. Di fase ini, bakat muda Serie A itu mulai masuk radar banyak klub besar.
Terobosan di Serie A dan Ujian Pertama
Debut senior Ahanor terjadi pada awal musim 2024/2025 bersama Genoa. Ia mencatat sejarah sebagai pemain kelahiran 2008 pertama yang tampil di Serie A. Bermain tanpa beban, ia menunjukkan ketenangan yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Namun, jalan cepat itu sempat terhenti. Cedera lutut serius memaksanya menepi selama lima bulan. Bagi pemain muda, fase ini sering menentukan. Akan tetapi, Ahanor kembali tanpa rasa ragu dan langsung menembus skuad utama sebelum musim berakhir.

Kebangkitannya memicu ketertarikan luas. AC Milan, Roma, Monaco, hingga Chelsea dikaitkan dengannya. Pada akhirnya, pilihan jatuh ke Atalanta, klub yang dikenal piawai memoles bakat muda Atalanta menjadi pemain elite.
Mengapa Atalanta Jadi Lingkungan Ideal
Atalanta membayar sekitar €16 juta plus bonus untuk pemain dengan pengalaman senior yang masih minim. Namun, keyakinan klub tidak datang tanpa alasan. Mereka melihat profil lengkap yang jarang ada.

Di bawah asuhan Ivan Juric dan kemudian Raffaele Palladino, Honest Ahanor langsung dipercaya. Cedera yang menimpa pemain senior membuka jalan baginya untuk tampil reguler, termasuk di Liga Champions.
Faktor yang Membuatnya Cepat Dipercaya
- Adaptasi cepat di level tinggi
Ahanor mampu membaca permainan dan menjaga posisi dengan disiplin meski tekanan meningkat. - Fleksibilitas posisi
Ia nyaman sebagai bek tengah, bek kiri, bahkan melebar ke sayap bila dibutuhkan. - Mentalitas kompetitif
Pelatih menilai sikap dan keberaniannya menonjol dibanding pemain muda lain.
Kepercayaan ini menjadikannya salah satu bek muda Atalanta paling menonjol musim ini.
Insiden Como dan Pelajaran Penting
Pada laga melawan Como, Ahanor menerima kartu merah langsung akibat insiden off the ball. Keputusan wasit menuai perdebatan, namun pelatih Palladino menilai momen itu sebagai bagian dari proses belajar.

Palladino berkata kepada DAZN
“I’ve spoken to him and while what I said to him is between us, he knew what he’d done. We have to accept these things, though, because they help him grow. He’s 17 years old and made a mistake. But, for me, he’s still a future champion.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa satu kesalahan tidak menghapus penilaian besar terhadap potensinya. Justru sebaliknya, Italia melihat pemain yang sudah melewati fase krusial dalam perkembangan mental.
Kekuatan Teknis yang Membuat Italia Waspada
Secara fisik, Honest Ahanor sudah siap. Ia kuat, cepat, dan mampu bertahan dalam duel satu lawan satu. Namun, aspek yang benar-benar membedakannya adalah kemampuan teknis dan kecerdasan bermain.

Keunggulan Utama di Lapangan
- Kontrol bola di area sempit
Ia nyaman membawa bola keluar dari tekanan, kualitas penting di sepak bola modern. - Visi dan progresi permainan
Ahanor mampu memutuskan kapan harus melepas bola dan kapan maju. - Kontribusi ofensif
Ia memiliki naluri menyerang dan sudah mencetak gol di ajang piala domestik.
Kombinasi ini membuatnya masuk kategori calon pemain timnas Italia yang sesuai dengan kebutuhan generasi baru Azzurri.
Area yang Masih Bisa Ditingkatkan
Meski menjanjikan, Ahanor bukan tanpa kekurangan. Tinggi badan sekitar 182 cm membuatnya tidak dominan secara alami dalam duel udara. Oleh karena itu, peningkatan timing dan teknik lompat menjadi penting.

Selain itu, ia masih perlu menyempurnakan pengambilan keputusan saat naik membantu serangan. Terlalu agresif bisa membuka ruang di lini belakang. Namun, kelemahan ini umum pada pemain muda dan relatif mudah diasah di lingkungan seperti Atalanta.
Dilema Italia dan Ancaman Nigeria
Inilah inti kegelisahan Italia. Begitu Ahanor genap 18 tahun dan proses administrasi rampung, ia bisa dipanggil timnas senior. Namun, Nigeria juga memiliki hak yang sama.
Italia tidak ingin mengulang cerita kehilangan talenta yang tumbuh di sistemnya sendiri. Oleh karena itu, ada dorongan kuat untuk segera mengintegrasikan Honest Ahanor ke dalam skuad Italia, setidaknya sebagai sinyal kepercayaan. (GOAL)
Bayangan Masa Depan yang Menggoda
Gaya bermainnya memunculkan perbandingan dengan David Alaba, terutama karena kemampuannya bergeser antara bek tengah dan sisi kiri. Ia sendiri mengidolakan Paolo Maldini, figur yang identik dengan kecerdasan posisi dan loyalitas.

Perbandingan ini tentu masih dini. Namun, bagi Italia, potensi semacam ini terlalu berharga untuk diabaikan.
Ketika Waktu Menjadi Musuh Terbesar
Italia kini berpacu dengan jam. Masa depan Gli Azzurri tidak hanya soal taktik dan pelatih, tetapi juga soal keberanian bertindak cepat. Honest Ahanor adalah contoh nyata bagaimana sepak bola modern menuntut keputusan dini.
Jika Italia berhasil mengamankannya, itu bukan sekadar soal satu pemain. Itu pesan bahwa sistem mulai belajar dari masa lalu. Jika gagal, ceritanya akan menjadi bab lain tentang talenta yang lolos dari genggaman. Dan sepak bola Italia sudah terlalu sering membaca kisah semacam itu.