Jobe Bellingham datang ke Borussia Dortmund dengan ekspektasi besar, bukan hanya karena nilai transfernya yang mencapai £28 juta, tetapi juga karena satu faktor yang sulit dihindari yaitu statusnya sebagai adik Jude Bellingham. Sejak awal, Jobe Bellingham di Borussia Dortmund diharapkan mampu mengikuti jejak sang kakak yang pernah menjadi simbol kebangkitan klub. Namun alih-alih langsung berkembang, perjalanan Jobe justru dipenuhi tantangan teknis, taktis, hingga psikologis.

Sebastian Kehl sempat menegaskan keyakinan klub terhadap Jobe. Ia menyebut gelandang muda itu sebagai sosok pemimpin yang ingin membangun jalannya sendiri di Dortmund. Pernyataan tersebut secara implisit mengakui bahwa bayang-bayang Jude adalah bagian dari tantangan yang harus dihadapi Jobe sejak hari pertama. (GOAL)
Datang dengan Modal Kuat dari Inggris
Jobe Bellingham tiba di Jerman dengan pengalaman yang tidak bisa dianggap remeh. Ia telah menjadi pemain kunci Sunderland selama dua musim penuh dan berperan penting dalam promosi ke Premier League. Bahkan, secara usia, Jobe bergabung dengan Dortmund lebih matang dibanding Jude saat pertama kali datang pada 2020.

Meski demikian, adaptasi Jobe Bellingham di Borussia Dortmund tidak berjalan semulus ekspektasi. Perbedaan tempo Bundesliga, tuntutan taktik yang lebih kompleks, serta persaingan di lini tengah membuat proses transisinya jauh lebih berat.
Awal Menjanjikan yang Tidak Berlanjut
Turnamen Club World Cup sempat memberi harapan. Jobe mencetak gol debut melawan Mamelodi Sundowns dan menyumbang assist saat menghadapi Ulsan. Dortmund melaju sebagai juara grup dan publik mulai membicarakan potensi duel saudara Bellingham di fase gugur.

Namun, segalanya berubah cepat. Akumulasi kartu kuning membuat Jobe absen di laga perempat final melawan Real Madrid. Duel yang digadang sebagai Battle of the Bellinghams pun batal terjadi, sementara Jude justru tampil dominan saat Dortmund tersingkir.
Kekecewaan itu menjadi titik awal fase sulit Jobe bersama klub.
Gangguan di Luar Lapangan
Insiden St Pauli dan Reaksi Keluarga
- Substitusi dini di laga pembuka Bundesliga
Jobe ditarik keluar saat jeda melawan St Pauli setelah hanya mencatatkan 28 sentuhan. Keputusan tersebut memicu kontroversi ketika Dortmund gagal mempertahankan keunggulan. - Intervensi ayah Jobe di lorong pemain
Menurut laporan Sport BILD, ayah Jobe meluapkan kemarahan kepada manajemen klub. Insiden ini kemudian ditanggapi tegas oleh Sebastian Kehl yang menegaskan bahwa area pemain hanya untuk staf dan skuad, bukan keluarga atau agen. - Sorotan media yang makin tajam
Peristiwa ini justru menambah tekanan terhadap Jobe Bellingham di Borussia Dortmund, meski klub berusaha meredam isu secara internal.

Masalah Taktik di Bawah Niko Kovac
Seiring berjalannya musim, Niko Kovac semakin konsisten dengan skema 3-4-3. Dalam sistem ini, Jobe kerap diposisikan sebagai gelandang nomor enam, peran yang membatasi kebebasannya untuk maju ke area serang.

Kovac sendiri menilai Jobe masih perlu beradaptasi dengan tempo dan struktur permainan Bundesliga. Ia menekankan bahwa sang pemain harus lebih disiplin dalam menjaga posisi, bukan terlalu sering turun ke area build-up.
Persaingan Ketat di Lini Tengah
- Marcel Sabitzer sebagai jangkar utama
Sabitzer menjadi pilihan utama di depan lini belakang karena pengalaman dan stabilitasnya. - Felix Nmecha sebagai gelandang box to box
Nmecha lebih dipercaya untuk peran dinamis yang sebenarnya cocok dengan karakter Jobe. - Jobe sebagai opsi ketiga
Akibatnya, menit bermain Jobe Bellingham di Borussia Dortmund menjadi sangat terbatas dan lebih sering datang dari bangku cadangan.
Momen Sulit yang Menggerus Kepercayaan Diri
Der Klassiker yang Berujung Petaka
- Kesalahan fatal di Allianz Arena
Saat Dortmund menahan Bayern, Jobe gagal menyapu bola dengan sempurna. Michael Olise memanfaatkan situasi itu untuk mencetak gol penentu. - Pembelaan dari pelatih dan pemain lawan
Kovac menyebut insiden itu hampir menjadi gol bunuh diri yang tidak disengaja, sementara Harry Kane menyebut Jobe sebagai pemain muda dengan potensi besar.

Meski demikian, sorotan publik jauh lebih kejam. Kepercayaan diri Jobe terlihat menurun drastis setelah momen tersebut.
Kartu Merah yang Menghentikan Momentum
Ketika mulai mendapatkan kepercayaan lewat laga penuh melawan Bodo Glimt, Jobe justru terkena kartu merah di Freiburg akibat pelanggaran sebagai pemain terakhir. Meski umpan buruk Gregor Kobel menjadi pemicu, hukuman larangan bermain tetap harus dijalani.

Situasi ini semakin memperkuat narasi bahwa performa Jobe Bellingham di Borussia Dortmund belum sejalan dengan ekspektasi klub.
Tekanan Perbandingan dengan Jude Bellingham
Perbandingan dengan Jude Bellingham hampir tidak terhindarkan. Beberapa kritik bahkan datang dari mantan pemain, termasuk Dietmar Hamann yang menyebut Jobe tidak setengah Jude. Pernyataan tersebut menuai perdebatan karena Jude sendiri adalah salah satu gelandang terbaik generasinya.

Menilai Jobe hanya dari standar Jude jelas tidak adil. Namun, realitas sepak bola modern membuat nama besar sering kali menjadi beban tambahan, terutama bagi pemain muda.
Kepercayaan yang Masih Dipegang Pelatih
Niko Kovac menegaskan bahwa adaptasi pemain muda membutuhkan waktu. Dalam wawancara dengan The Athletic, ia menekankan bahwa Jobe adalah pribadi yang rendah hati, pekerja keras, dan obsesif terhadap peningkatan diri.

Kovac bahkan mengaku harus membatasi semangat Jobe yang terlalu tenggelam dalam sepak bola. Menurutnya, karakter seperti itu adalah aset jangka panjang bagi klub.
Peluang Baru di Tengah Situasi Darurat
Penjualan Pascal Gross dan cedera Sabitzer membuka celah. Jobe bermain penuh saat Dortmund mengalahkan St Pauli dan kembali tampil di Liga Champions melawan Tottenham.

Momen ini bisa menjadi titik balik. Konsistensi dan kepercayaan diri akan menentukan apakah Jobe Bellingham di Borussia Dortmund mampu mengubah narasi negatif menjadi proses pembelajaran yang sehat.
Jalan Panjang yang Masih Terbuka
Jobe Bellingham belum gagal. Ia hanya berada di fase paling sulit dalam karier mudanya. Dortmund pernah menjadi tempat tumbuh bagi banyak pemain besar, termasuk Jude. Namun, jalan setiap pemain tidak harus sama.
Jika Jobe mampu berdamai dengan tekanan dan menemukan peran idealnya, cerita ini bisa berubah arah. Untuk saat ini, ia masih berjalan di jalan terjal. Tinggal apakah ia memilih menanjak perlahan atau berhenti di tengah tanjakan. Dortmund menunggu, publik mengamati, dan Jobe kini tidak punya pilihan selain membuktikan bahwa namanya lebih dari sekadar bayangan sang kakak.