Era Thomas Frank di Tottenham Hotspur berakhir pada momen ketika klub berada di posisi ke-16 klasemen Premier League dengan 29 poin dari 26 pertandingan. Berakhirnya era Thomas Frank di Tottenham Hotspur tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian hasil yang terus memburuk, nol kemenangan dalam sembilan laga domestik sepanjang 2026, serta tekanan yang semakin nyata terhadap masa depan Tottenham di Premier League.

Dengan rata-rata 1,12 poin per pertandingan, Frank mencatat angka terendah untuk manajer klub big six sejak 2010 yang menangani lebih dari 10 laga. Jika dirata-ratakan dalam satu musim penuh, angka tersebut hanya menghasilkan sekitar 42 poin. Dalam liga yang semakin kompetitif, situasi Tottenham di klasemen membuat ancaman degradasi bukan lagi sekadar wacana.
Menurut laporan lengkap dari GOAL, Spurs hanya terpaut lima poin dari zona merah saat keputusan Tottenham memecat Thomas Frank akhirnya diambil. Angka itu menjadi simbol bahwa krisis Tottenham musim ini telah melewati batas toleransi.
Rekor Terburuk di Era Big Six Modern
Secara statistik, kegagalan Thomas Frank di Tottenham terlihat jelas. Rata-rata 1,12 poin per game lebih buruk dibandingkan Ruben Amorim di Manchester United, Roy Hodgson di Liverpool, dan Graham Potter di Chelsea pada periode tersulit mereka. Bahkan Nuno Espirito Santo yang sempat dianggap gagal di Spurs mencatat 1,5 poin per pertandingan.

Selain itu, nol kemenangan dalam sembilan laga domestik 2026 memperlihatkan tren yang tidak menunjukkan tanda pemulihan. Kekalahan dari Arsenal dan Chelsea di derby London mempercepat hilangnya kepercayaan suporter. Kemudian, hasil negatif melawan West Ham dan Newcastle memicu nyanyian pemecatan di stadion sendiri. Dengan demikian, berakhirnya era Thomas Frank di Tottenham Hotspur menjadi konsekuensi matematis sekaligus emosional.
Kronologi Tekanan yang Tak Terbendung
Beberapa momen penting mempercepat runtuhnya era Thomas Frank di Spurs
1. Derby yang Mempermalukan
Kekalahan telak dari Arsenal dan Chelsea menjadi titik awal retaknya relasi antara pelatih dan publik. Spurs tidak hanya kalah, tetapi terlihat tanpa arah.
2. Nyanyian Sacked in the Morning
Saat kalah dari West Ham dan kemudian Newcastle, suporter meneriakkan bahwa Frank akan dipecat. Tekanan publik berubah menjadi tekanan struktural.
3. Kekalahan di Old Trafford
Kartu merah Cristian Romero dalam laga melawan Manchester United memperlihatkan rapuhnya kontrol internal tim.

PR Disaster dan Kesalahan Komunikasi
Frank datang dari Brentford dengan reputasi pelatih berbasis data dan hubungan kuat dengan fans. Namun atmosfer Tottenham berbeda. Dalam konferensi pers pertamanya ia berkata
“As I said to the staff on the first day here, I promise you one thing, one thing is 100 percent for sure – we will lose football matches.”

Pernyataan itu dimaksudkan untuk meredam ekspektasi, tetapi justru dinilai kurang ambisius. Selain itu, komentar tentang Arsenal yang ia sebut sebagai rookie mistake serta berbagai pernyataan lain memperburuk citranya. Bahkan sebagian fans rival menjulukinya sebagai silver member.

Ketika ia menyebut bahwa fans yang mencemooh Guglielmo Vicario bukan true Tottenham fans, jarak dengan tribune semakin lebar. Dalam konteks klub yang mematok harga tiket mahal, pernyataan tersebut terasa sensitif.
Tidak Ada Identitas Permainan
Frank dikenal sukses memainkan sepak bola transisi cepat di Brentford. Namun di Tottenham, identitas tersebut tidak pernah matang. Tanpa Harry Kane dan Son Heung-min, lini serang kehilangan referensi utama.

Cedera panjang Dejan Kulusevski dan James Maddison memang memperburuk kreativitas tim. Meski demikian, struktur lini tengah yang dipenuhi gelandang box to box membuat Spurs sulit mengontrol tempo. Mereka tidak lagi menggunakan garis tinggi ekstrem era sebelumnya, tetapi juga tidak solid secara defensif.
Akibatnya, Tottenham sering terlihat bingung dalam membangun serangan maupun bertahan.
Masalah Cristian Romero dan Disiplin Internal
Cristian Romero menjadi figur sentral dalam konflik internal. Dalam salah satu unggahannya ia menulis
“At times like this, it should be other people coming out to speak, but they don’t – as has been happening for several years now. They only show up when things are going well, to tell a few lies.”

Walau unggahan itu kemudian diedit, pesan yang tersirat tetap kuat. Frank memilih membela kaptennya, namun keputusan tersebut memicu perdebatan tentang kepemimpinan dan akuntabilitas.
Romero memang mencetak enam gol musim ini, tetapi performa defensifnya tidak konsisten. Kartu merah di laga kontra Manchester United membuat Spurs kehilangan kapten dalam tiga laga krusial. Situasi itu memperlihatkan bahwa kualitas individu tidak selalu sejalan dengan stabilitas kolektif.
Struktur Klub dan Masalah Manajemen Tottenham
Masalah manajemen Tottenham tidak bisa dipisahkan dari berakhirnya era Thomas Frank di Tottenham Hotspur. CEO Vinai Venkatesham yang sebelumnya lama di Arsenal menghadapi skeptisisme sejak awal. Berbeda dengan Daniel Levy yang menjadi lightning rod kritik selama 24 tahun, Vinai belum menunjukkan kemampuan menyerap tekanan publik.

Sementara itu, sporting director Johan Lange merekrut banyak pemain seperti Timo Werner, Radu Dragusin, Lucas Bergvall, Archie Gray, Dominic Solanke, Wilson Odobert, Yang Min Hyeok, Antonin Kinsky, Kevin Danso, Mathys Tel, Xavi Simons, hingga Randal Kolo Muani. Namun kebutuhan mendesak tim utama sering tidak terpenuhi.
Lange menegaskan
“It’s important as a club to remain disciplined and make sure to do the best of our abilities to only sign players who will help the team now or in the future. It’s important you don’t force yourself into a stress purchase, because that normally doesn’t end well for anyone.”

Disiplin transfer memang penting. Namun ketika setengah skuad dilanda cedera dan hasil terus menurun, pendekatan tersebut dinilai terlalu pasif.
Transitional Season atau Alasan yang Terlalu Mudah
Frank sendiri menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya berada di pundaknya
“In my opinion, the way I have already seen, I can’t speak about what happened before, of course I inherited a squad and some players. But the way I see it and the way we do it now, we do things together.”

Narasi transitional season sempat digunakan sebagai pembenaran. Akan tetapi, ketika Tottenham terancam degradasi, istilah tersebut terdengar seperti pelarian dari kenyataan.
Paradox Liga Champions
Ironisnya, di tengah performa domestik yang buruk, Spurs berhasil finis keempat pada fase liga Liga Champions dan mengamankan keuntungan bermain kandang di babak 16 besar. Kontras ini memperlihatkan paradoks. Di Eropa mereka kompetitif, namun di liga domestik mereka goyah.

Dengan jadwal padat setelah kembali berlaga di kompetisi Eropa, tekanan terhadap skuad justru meningkat. Jika fokus terbagi, risiko kehilangan poin di liga semakin besar.
Bayang Bayang Mauricio Pochettino
Di tengah kekacauan, Mauricio Pochettino muncul kembali dalam perbincangan publik. Dalam podcast High Performance ia mengatakan
“It is very simple: Tottenham. Still, the people on the street, the fans of Tottenham, really show the love and the appreciation, and I think that is why it’s so special.”

Sebagian suporter melihatnya sebagai solusi untuk mengembalikan identitas klub. Namun pertanyaan tetap ada apakah ia bersedia kembali jika Spurs terperosok lebih jauh.
Titik Kritis yang Menentukan
Berakhirnya era Thomas Frank di Tottenham Hotspur seharusnya menjadi momen evaluasi total. Pergantian pelatih memang langkah paling cepat, tetapi bukan satu-satunya solusi. Krisis Tottenham musim ini menunjukkan bahwa kegagalan kolektif terjadi di berbagai level.

Spurs kini berada dalam situasi hidup atau mati. Mereka tidak terlalu besar untuk turun kasta, dan sejarah Premier League telah membuktikan bahwa reputasi tidak menjamin keselamatan. Jika perubahan struktural tidak segera dilakukan, maka berakhirnya era Thomas Frank di Tottenham Hotspur hanya akan menjadi satu bab dalam rangkaian kesalahan yang lebih panjang.
Tottenham masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan. Namun waktu tidak pernah menunggu klub yang ragu mengambil keputusan berani. Kini publik menanti apakah langkah ini menjadi awal kebangkitan atau justru pembuka krisis yang lebih dalam.