Sorotan kamera akan tertuju penuh ke Emirates Stadium saat Arsenal menjamu Liverpool dalam jadwal khusus Premier League tengah pekan ini. Dengan eksposur global dan tekanan kompetitif yang tinggi, setiap detail performa pemain akan diperhatikan. Dalam konteks itu, Viktor Gyokeres terancam kehilangan statusnya sebagai penyerang utama Arsenal jika gagal memanfaatkan momen besar ini.

Didatangkan dari Sporting CP dengan banderol awal £55 juta, Gyokeres diharapkan menjadi solusi instan atas pencarian panjang Arsenal akan penyerang nomor sembilan. Namun seiring musim berjalan, narasi yang berkembang justru berbalik arah. Alih-alih menjadi pusat ketajaman, Viktor Gyokeres terancam tergeser oleh opsi internal yang semakin kuat dan konsisten.
Beban Ekspektasi yang Belum Terjawab
Reputasi Gyokeres sebelum mendarat di London Utara nyaris tanpa cela. Torehan 97 gol dari 102 pertandingan bersama Sporting CP membuat Arsenal percaya bahwa adaptasi ke Premier League hanya soal waktu. Selain itu, pengalamannya bersama Coventry City di Championship turut memperkuat keyakinan bahwa ia memahami kerasnya sepak bola Inggris.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dari 23 penampilan bersama Arsenal, Gyokeres hanya mencetak tujuh gol dan dua di antaranya berasal dari titik penalti. Lebih mencolok lagi, ia gagal mencetak gol dalam 18 pertandingan. Meski secara statistik masih menjadi top skor bersama tim, fakta tersebut lebih mencerminkan pemerataan kontribusi Arsenal ketimbang dominasi individu di lini depan.
Situasi ini membuat Viktor Gyokeres terancam kehilangan aura sebagai striker yang tak tergantikan, terutama di tim dengan kedalaman skuad sekuat Arsenal.
Gerakan Tanpa Bola yang Dipertanyakan
Gary Lineker, salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Inggris, menyoroti aspek fundamental dalam permainan Gyokeres. Dalam podcast The Rest Is Football, ia menilai sang striker terlalu reaktif dan kurang agresif membaca peluang.
“I’ve watched him quite closely the last few weeks and I think he’s like most strikers, is one that waits to see where it’s going, the ball, waits until it’s crossed and then attacks the space,” Lineker said. “That’s what defenders do, as a striker you got to gamble on where you think the ball might go and you go just as they’re about to cross it.“

Lineker kemudian membandingkan Gyokeres dengan Dominic Calvert Lewin yang dinilainya lebih berani mengambil risiko pergerakan. Menurutnya, naluri tersebut adalah ciri utama striker elite seperti Erling Haaland, Harry Kane, dan Robert Lewandowski. Kritik ini memperkuat anggapan bahwa Viktor Gyokeres terancam bukan hanya oleh persaingan internal, tetapi juga oleh standar teknis Premier League itu sendiri.
Gagal Meyakinkan dari Uji Mata
Selain angka statistik, performa Gyokeres juga kerap gagal meyakinkan secara visual. Gaya bermainnya yang mengandalkan fisik terlihat kontras dengan pendekatan teknis dan kolektif Arsenal. Ketika ia absen karena cedera dan belum pulih sepenuhnya, Arsenal justru tampil dominan dengan kemenangan besar atas Tottenham dan Bayern Munich.

Memang korelasi ini tidak bisa dijadikan bukti mutlak. Namun secara persepsi publik, momentum tersebut membuat Viktor Gyokeres terancam kehilangan kepercayaan sebagai elemen kunci sistem Arteta.
Catatan Fisik dan Adaptasi Premier League
Mantan gelandang Arsenal dan timnas Swedia, Stefan Schwarz, menilai bahwa aspek fisik Gyokeres bisa menjadi bumerang. Menurutnya, Premier League menuntut efisiensi gerak dan ketahanan yang berbeda.
“Sometimes the dog who barks loudest is not always the strongest. I think it’s just the players in the Premier League. They are more powerful players, faster players,” Schwarz said.
Ia juga menyinggung fakta bahwa Gyokeres tidak menjalani pramusim ideal. Adaptasi relasi antar pemain, menurut Schwarz, membutuhkan waktu dan jam terbang yang konsisten. Meski demikian, ia tetap optimistis sang striker akan berkembang, asalkan mampu menyesuaikan tubuh dan gaya bermainnya.
Persaingan Internal yang Semakin Ketat
Inilah fase paling krusial yang membuat Viktor Gyokeres terancam secara nyata. Arsenal kini memiliki beberapa opsi penyerang yang bukan hanya tersedia, tetapi juga tampil meyakinkan.
Gabriel Jesus Kembali Menggigit
- Comeback pasca cedera ACL dengan performa tajam
- Gol spektakuler ke gawang Aston Villa
- Dipuji Jamie Carragher sebagai opsi yang lebih komplet

Carragher bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Jesus, atau bahkan Kai Havertz, adalah pilihan yang lebih baik dibanding Gyokeres untuk memimpin lini depan.
Kai Havertz Menjadi Ancaman Serius
- Produktif sebagai striker di paruh akhir musim lalu
- Transformasi fisik signifikan selama masa pemulihan
- Dukungan penuh dari Mikel Arteta
Arteta sendiri menyebut Havertz sebagai pemain yang membawa dimensi berbeda bagi tim. Jika sang Jerman kembali fit dan konsisten, maka Viktor Gyokeres terancam semakin sulit mempertahankan tempatnya.
Opsi Taktis Lain Arsenal
- Mikel Merino sebagai solusi darurat
- Fleksibilitas lini depan Arsenal mengurangi ketergantungan pada satu striker
Masih Ada Kontribusi yang Tak Terlihat
Meski kritik mengalir deras, tidak semua pihak memandang Gyokeres sebagai beban. Declan Rice menegaskan bahwa kehadiran sang striker kerap menarik dua bek sekaligus, membuka ruang bagi pemain lain.
“It’s tough for him, because he’s got two defenders on him all game,” Rice said. “When that space arrives for him and the ball’s arriving at his feet to score goals, he will 100 percent score.“
Rice bahkan menyebut Gyokeres sebagai salah satu striker terbaik dunia saat ini, klaim yang tentu memicu perdebatan. Namun pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di ruang ganti Arsenal, kepercayaan terhadap Gyokeres belum sepenuhnya hilang.

Arteta pun senada, menekankan konteks adaptasi, cedera, dan minimnya pramusim sebagai faktor utama. Ia percaya waktu akan menjadi sekutu, bukan musuh.
Bayang-Bayang Penyesalan di Bursa Transfer
Narasi Viktor Gyokeres terancam semakin kuat ketika dibandingkan dengan penyerang lain yang sempat masuk radar Arsenal. Hugo Ekitike tampil impresif bersama Liverpool, sementara Benjamin Sesko dan Alexander Isak terus menjadi pembanding yang tak terhindarkan.

Isak, meski sedang cedera, dinilai lebih matang di level elite. Perbandingan ini menimbulkan pertanyaan internal apakah Arsenal telah memilih opsi terbaik untuk jangka panjang.
Liverpool sebagai Panggung Penentuan
Laga melawan Liverpool kini memiliki makna lebih dari sekadar perebutan tiga poin. Dengan kondisi pertahanan The Reds yang rapuh dan tren performa menurun, ini adalah kesempatan ideal bagi Gyokeres untuk membungkam kritik.

Artikel dari GOAL yang menjadi rujukan utama analisis ini menegaskan bahwa jika penyerang seharga £55 juta tidak mampu bersinar dalam kondisi seperti ini, maka wajar jika klub mulai mempertimbangkan alternatif lain. Dalam konteks tersebut, Viktor Gyokeres terancam bukan oleh satu pertandingan, melainkan oleh akumulasi ekspektasi yang belum terpenuhi.
Ketika Waktu Tidak Lagi Menunggu
Sepak bola modern jarang memberi ruang panjang untuk adaptasi, terlebih di klub dengan ambisi juara. Arsenal berada di puncak klasemen dan tidak punya alasan menurunkan standar demi satu pemain. Gyokeres masih punya kesempatan, namun margin kesalahan semakin tipis.
Jika malam melawan Liverpool berakhir tanpa dampak signifikan, maka tekanan akan berubah menjadi keputusan. Dan di titik itu, Viktor Gyokeres terancam bukan lagi sekadar isu media, melainkan realitas kompetitif. Di Emirates, banter selalu sederhana. Tunjukkan kualitas atau bersiap memberi jalan.