Tidak ada malam penuh keajaiban, tidak ada remontada ikonik, dan tidak ada euforia khas Liga Champions yang biasa menyelamatkan segalanya. Era Xabi Alonso di Real Madrid berjalan dengan nada yang jauh dari romantis. Klub yang terbiasa hidup dalam tekanan trofi justru dipaksa menelan realitas transisi yang pahit, sesuatu yang jarang diberi toleransi di Santiago Bernabeu.
Peralihan dari Carlo Ancelotti ke proyek baru yang dipimpin Xabi Alonso sempat menghadirkan harapan besar. Namun seiring berjalannya waktu, era baru Real Madrid di bawah Xabi Alonso berubah dari simbol kebangkitan menjadi periode penuh pertanyaan. Hasil yang tidak konsisten, jarak poin yang berbalik arah di LaLiga, serta performa naik turun membuat tahun 2025 terasa lebih berat dari perkiraan.

Artikel ini merangkum secara menyeluruh perjalanan Real Madrid sepanjang 2025 berdasarkan laporan mendalam dari The Athletic, dengan fokus pada momen penting, pemain kunci, hingga dinamika internal yang membentuk wajah Madrid hari ini.
Awal Era Xabi Alonso yang Penuh Ekspektasi
Kedatangan Xabi Alonso pada akhir Mei menjadi titik awal antusiasme besar. Pernyataannya yang penuh keyakinan langsung menghidupkan harapan akan sepak bola yang lebih segar dan progresif. Transisi kepelatihan ini diperkuat oleh perekrutan pemain baru yang menambah optimisme publik Bernabeu.

Namun demikian, realitas kompetisi segera berbicara. Setelah fase awal yang menjanjikan, performa tim justru melandai. Dua kemenangan dari delapan pertandingan sepanjang November dan Desember membuat keunggulan lima poin di puncak klasemen LaLiga berubah menjadi ketertinggalan empat poin dari Barcelona. Dalam konteks klub seperti Madrid, fase ini menjadi ujian awal yang berat bagi era Xabi Alonso di Real Madrid.
Titik Terendah Musim Tanpa Trofi
Musim ini tidak hanya soal kehilangan gelar, tetapi juga tentang bagaimana kekalahan datang dengan cara yang menyakitkan. Real Madrid sempat melangkah ke perempat final Liga Champions dengan modal kepercayaan diri setelah menyingkirkan Manchester City dan Atletico Madrid. Akan tetapi, semua itu runtuh saat berhadapan dengan Arsenal.

Kekalahan agregat 5-1 menjadi gambaran telanjang jarak kualitas yang tercipta pada malam-malam krusial Eropa. Dua leg pertandingan tersebut memperlihatkan Madrid yang tidak mampu mengontrol ritme dan kehilangan identitasnya. Laporan lengkap pertandingan ini dijabarkan oleh The Athletic, yang menyoroti dominasi Arsenal sebagai cerminan krisis Madrid saat itu.
Laga yang Menghidupkan Harapan Sesaat
Di tengah musim yang berat, ada satu malam yang sempat mengubah suasana. Kemenangan 2-1 atas Barcelona pada 26 Oktober menjadi penampilan terbaik Madrid sepanjang tahun. Meski skor terlihat tipis, dominasi permainan terutama di babak pertama memberi sinyal bahwa proyek Alonso belum sepenuhnya gagal.

Kemenangan tersebut juga memiliki makna psikologis karena memutus tren empat kekalahan beruntun dari Barcelona. Sayangnya, momentum itu tidak bertahan lama. Performa tim kembali menurun, dan hasil positif tersebut kini lebih dikenang sebagai pengecualian daripada titik balik.
Mbappe sebagai Poros Utama Madrid 2025
Jika ada satu sosok yang konsisten menyelamatkan wajah Madrid sepanjang 2025, maka jawabannya tidak terbantahkan.
Alasan Mbappe Menjadi Figur Sentral
1. Rekor gol yang menyamai legenda
Kylian Mbappe mencetak 59 gol sepanjang tahun kalender 2025, menyamai rekor Cristiano Ronaldo pada 2013. Statistik ini menjadi fondasi utama mengapa namanya berada di atas pemain lain.

2. Kepemimpinan di ruang ganti
Lebih dari sekadar pencetak gol, Mbappe berkembang menjadi figur pemimpin. Ia aktif mengorganisasi tim dan mendorong rekan setim di momen krusial.
3. Performa di laga besar
Hat-trick ke gawang Manchester City dan kontribusi konsisten di laga El Clasico menegaskan perannya sebagai pembeda.
Dalam era Xabi Alonso di Real Madrid, Mbappe bukan hanya bintang, melainkan juga penopang utama proyek yang masih mencari keseimbangan.
Statistik yang Mewakili Musim Madrid
Angka sering kali lebih jujur daripada narasi emosional. Dalam kasus Real Madrid 2025, statistik Mbappe menjadi cermin paling jelas. Meski mencetak 59 gol, Madrid gagal meraih gelar besar. Trofi yang diraih hanya UEFA Super Cup dan FIFA Intercontinental Cup, pencapaian yang belum sebanding dengan ekspektasi klub sebesar Madrid.

Statistik ini menegaskan satu hal penting. Adaptasi Mbappe telah tuntas, tetapi kolektivitas tim belum mengikuti kecepatan bintangnya.
Momen Emosional Perpisahan Modric
Di tengah ketidakpastian proyek baru, ada satu momen yang menyatukan emosi Madridista. Perpisahan Luka Modric pada 24 Mei menjadi penutup era emas yang panjang.
“Don’t cry because it’s over, smile because it happened,” ujar Modric dalam pidato perpisahannya.

Kata-kata tersebut menandai akhir perjalanan pemain yang meraih enam gelar Liga Champions bersama klub. Perpisahan ini terasa semakin emosional karena beriringan dengan kepergian Carlo Ancelotti, pelatih yang membersamai sebagian besar kejayaan tersebut.
Kejutan Besar Bernama Vinicius Junior
Tidak semua cerita musim ini bergerak ke arah yang diharapkan. Penurunan performa Vinicius Junior menjadi salah satu kejutan terbesar.
Faktor Penurunan Vinicius
1. Produktivitas menurun drastis
Vinicius hanya mencetak lima gol dari 24 pertandingan di semua kompetisi, jauh menurun dibanding musim sebelumnya.
2. Rentetan laga tanpa gol
Ia menjalani 14 pertandingan beruntun tanpa mencetak gol, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya.
3. Relasi yang memburuk
Hubungannya dengan Alonso dikabarkan merenggang, bahkan ia disebut menyampaikan keengganan memperpanjang kontrak kepada Florentino Perez.

Situasi ini membuat masa depan Vinicius di Madrid semakin kompleks, terutama dengan kontraknya yang berakhir pada 2027. Dalam konteks era Xabi Alonso di Real Madrid, kasus ini menjadi tantangan manajerial yang tidak bisa diabaikan.
Tahun yang Memaksa Madrid Berkaca
Real Madrid tidak terbiasa menunggu. Namun musim 2025 memaksa klub ini belajar tentang proses, sesuatu yang sering kali bertabrakan dengan budaya instan mereka. Harapan besar di awal musim berubah menjadi tekanan yang nyaris konstan.

Meski demikian, fondasi tetap ada. Mbappe berada di puncak performa, Alonso masih memiliki waktu untuk membuktikan idenya, dan skuad muda menyimpan potensi besar. Tantangannya adalah bagaimana menyatukan semua elemen tersebut sebelum kesabaran publik Bernabeu benar-benar habis.
Musim ini mungkin tidak akan dikenang sebagai tahun kejayaan, tetapi bisa menjadi fase penentu arah masa depan. Jika Madrid berhasil belajar dari luka 2025, maka era Xabi Alonso di Real Madrid masih punya peluang untuk berkembang. Jika tidak, musim ini akan tercatat sebagai peringatan bahwa bahkan raksasa pun bisa tersandung ketika perubahan datang terlalu cepat.
Dan di Bernabeu, transisi hanya diterima jika langsung berbuah hasil.