Brentford kembali menjalani musim Premier League dengan cara yang tidak biasa, namun tetap efektif. Klub asal London Barat ini masuk kompetisi dengan status kandidat degradasi, kehilangan pelatih utama, kapten tim, serta dua pencetak gol terbanyak mereka. Namun alih alih runtuh, Brentford justru menemukan cara baru untuk bertahan dan bahkan bersaing di papan atas. Inilah gambaran lengkap cara Brentford bertahan di Premier League, sebuah proses yang berangkat dari budaya klub, keputusan berani, dan kecermatan membaca situasi.
Sejak promosi ke kasta tertinggi pada 2021, Brentford memang dikenal sebagai klub yang terbiasa menjual aset terbaiknya. Oleh karena itu, kehilangan pemain bintang bukanlah hal baru. Meski demikian, eksodus pada musim panas 2025 tergolong ekstrem dan berpotensi memutus kontinuitas. Fakta bahwa mereka masih kompetitif menjadikan Brentford studi kasus menarik di Premier League musim ini. (GOAL)
Eksodus musim panas yang menguji fondasi klub
Musim panas 2025 menjadi titik krusial dalam perjalanan Brentford. Thomas Frank hengkang ke Tottenham, mengakhiri era panjang yang identik dengan stabilitas dan identitas permainan. Bersamaan dengan itu, Christian Norgaard dilepas ke Arsenal, Bryan Mbeumo bergabung dengan Manchester United, dan Yoane Wissa menyusul ke Newcastle.

Secara kolektif, keempat nama tersebut mewakili tulang punggung tim, baik secara teknis maupun kepemimpinan. Kehilangan mereka bukan hanya soal statistik, melainkan juga struktur ruang ganti. Banyak pihak menilai inilah momen ketika cara Brentford bertahan di Premier League akan benar benar diuji.
Namun, Brentford tidak pernah memosisikan diri sebagai klub yang bergantung pada individu. Setiap penjualan besar selalu diimbangi dengan perencanaan jangka panjang. Prinsip ini kembali diterapkan meski skalanya lebih besar dari biasanya.
Penunjukan Keith Andrews dan pilihan kontinuitas
Kepergian Frank memaksa manajemen mengambil keputusan strategis. Alih alih mencari nama besar dari luar, Brentford memilih Keith Andrews, sosok internal yang sebelumnya berperan sebagai pelatih set piece. Langkah ini menegaskan komitmen klub terhadap kesinambungan filosofi.
Andrews dipandang memiliki komunikasi kuat dan pemahaman mendalam terhadap struktur tim. Keputusan ini memang berisiko karena minimnya pengalaman sebagai manajer kepala, namun Brentford menilainya sebagai risiko terukur. Pendekatan ini sejalan dengan cara Brentford bertahan di Premier League yang lebih menekankan sistem daripada reputasi.

Awal musim tidak berjalan mulus. Kekalahan dari Nottingham Forest dan Fulham sempat menyeret Brentford ke papan bawah. Andrews bahkan secara terbuka mengkritik pemainnya. Ia mengatakan
“Get back to basics. Basics in the game is a dirty word at times, but you have to have an edge and do the ugly side of the game and compete as a team.“
Pernyataan tersebut menjadi titik balik. Alih-alih memecah tim, pendekatan langsung Andrews justru memperjelas standar yang diinginkan.
Perubahan performa dan konsistensi hasil
Sejak laga melawan Fulham, grafik performa Brentford meningkat signifikan. Jika klasemen dihitung dari periode tersebut, mereka berada di empat besar. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari pendekatan pragmatis yang diterapkan Andrews.

Brentford menjadi tim dengan jumlah umpan panjang terbanyak di liga, namun tetap selektif dalam penguasaan bola. Formasi dasar 4-3-3 mereka fleksibel saat bertahan, sering kali berubah menjadi bentuk diamond. Pendekatan ini membuat Brentford lebih solid tanpa kehilangan daya serang.
Di sinilah terlihat jelas cara Brentford bertahan di Premier League, yakni dengan mengutamakan efektivitas dan adaptasi, bukan dominasi semu.
Igor Thiago sebagai simbol era baru
Kebangkitan Brentford tidak bisa dilepaskan dari performa Igor Thiago. Penyerang asal Brasil ini menjadi kejutan terbesar musim ini. Setelah musim debut yang terganggu cedera, Thiago tampil tajam dan konsisten.

Ia telah mencetak lebih dari 15 gol di pertengahan musim, memecahkan rekor gol terbanyak pemain Brasil dalam satu musim Premier League. Kehadirannya menutup lubang yang ditinggalkan Ivan Toney, Mbeumo, dan Wissa.
Secara fisik, Thiago cocok dengan intensitas liga Inggris. Namun kekuatan mentalnya yang membuat perbedaan. Perjalanan kariernya dari Brasil, Bulgaria, hingga Belgia membentuk karakter tangguh yang kini menjadi aset Brentford.
Peran pemain senior dan keseimbangan skuad
Masuknya Jordan Henderson menjadi langkah strategis lain. Kehadirannya menggantikan peran Norgaard sebagai pemimpin lini tengah. Henderson tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga menjaga intensitas permainan.

Selain itu, perekrutan Caoimhin Kelleher sebagai penjaga gawang utama memberikan stabilitas di lini belakang. Kombinasi pemain muda dan senior menciptakan keseimbangan yang penting dalam cara Brentford bertahan di Premier League.
Henderson sendiri menyebut pendekatan Andrews sebagai faktor kunci kepindahannya. Ia mengatakan
“Keith was very clear and honest with what he wanted. He told me what he thought about the team and the group, and what he thought was possible to achieve.“
Fondasi budaya klub yang jarang disorot
Keberhasilan Brentford tidak dapat dipisahkan dari budaya internal yang dibangun pemilik Matthew Benham. Klub ini sering dicap sebagai Moneyball versi Premier League, namun label tersebut tidak sepenuhnya akurat.

Analitik memang penting, tetapi pendekatan humanis menjadi pembeda. Hubungan antara manajemen, staf, dan pemain dijaga dengan intens. Sosok seperti Phil Giles dan Lee Dykes memastikan rekrutmen tidak hanya cocok secara statistik, tetapi juga secara karakter.
Budaya inilah yang membuat transisi besar tetap terkendali. Ketika satu figur pergi, sistem tetap berjalan. Inilah inti dari cara Brentford bertahan di Premier League yang sering luput dari sorotan.
Mengapa Brentford tetap relevan di tengah kekacauan liga
Untuk memahami keberlanjutan Brentford, ada beberapa faktor utama yang saling terkait
Model penjualan pemain yang terencana
- Brentford selalu menjual saat nilai pemain berada di puncak
- Dana penjualan dialokasikan untuk memperkuat struktur, bukan hanya mengganti nama
Keberanian memberi kepercayaan internal
- Penunjukan Keith Andrews mencerminkan keyakinan pada proses
- Kontinuitas filosofi mengurangi masa adaptasi

Adaptasi taktik yang realistis
- Fokus pada efektivitas, bukan estetika semata
- Fleksibel menghadapi lawan dengan sumber daya berbeda
Budaya klub yang kuat
- Hubungan personal menjadi penopang analitik
- Stabilitas internal mengurangi tekanan eksternal
Keempat faktor tersebut membentuk kerangka kerja yang memungkinkan Brentford tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Peluang Eropa yang semakin terbuka
Musim Premier League kali ini ditandai dengan ketatnya persaingan. Banyak klub besar kehilangan konsistensi, membuka peluang bagi tim yang terorganisir dengan baik. Brentford berada di posisi ideal untuk memanfaatkan situasi ini.

Dengan tren performa yang ada, finis di zona Eropa bukanlah angan angan. Bahkan posisi lima besar sangat mungkin jika konsistensi terjaga. Hal ini semakin menegaskan bahwa cara Brentford bertahan di Premier League kini berevolusi menjadi cara bersaing di level lebih tinggi.
Membaca arah masa depan Brentford
Brentford bukan klub dengan ambisi instan. Mereka bergerak perlahan namun pasti, memaksimalkan setiap peluang yang muncul dari kekacauan kompetitor. Pendekatan ini mungkin tidak selalu spektakuler, tetapi terbukti efektif.
Jika musim ini berakhir dengan tiket Eropa, itu bukan keajaiban. Itu adalah konsekuensi logis dari perencanaan matang dan keberanian mengambil keputusan tidak populer. Premier League sering kali menjadi panggung bagi klub dengan sumber daya besar, namun Brentford menunjukkan bahwa kecerdasan struktural masih punya tempat.
Di tengah hiruk pikuk belanja mahal dan pergantian manajer, Brentford tetap setia pada jalurnya. Dan mungkin, justru karena itulah mereka terus bertahan, bahkan sambil tersenyum.