Joshua Zirkzee mulai kehilangan ruang di Manchester United pada fase krusial musim ini, sementara isu Zirkzee ke Roma kian menguat di balik keterbatasan menit bermain yang ia dapatkan. Persaingan ketat di lini depan, tekanan performa, serta kebutuhan tampil reguler membuat masa depannya di Old Trafford kembali dipertanyakan ketika AS Roma datang membawa ketertarikan serius.

Namun, langkah tersebut tidak berjalan mulus. Ruben Amorim memilih menahan kepergian sang penyerang karena Manchester United sedang menghadapi krisis kedalaman skuad. Di tengah absennya sejumlah pemain kunci dan padatnya jadwal kompetisi, wacana Zirkzee ke Roma berubah menjadi tarik ulur kepentingan antara kebutuhan tim dan masa depan pemain yang kian terjepit.
Situasi Zirkzee di Manchester United
Joshua Zirkzee direkrut dari Bologna pada musim panas 2024 dengan biaya sekitar £36,5 juta. Namun, sejak tiba di Old Trafford, ekspektasi tersebut belum terbayar. Pada musim ini, ia hanya mencatat satu gol dari sekitar 11 hingga 12 penampilan di semua kompetisi dengan total menit bermain yang sangat terbatas. Selain itu, Ruben Amorim lebih sering memercayakan posisi penyerang utama kepada Benjamin Sesko dan Matheus Cunha.

Akibatnya, Zirkzee turun ke lapis kedua hierarki lini depan. Kondisi ini membuat peluangnya tampil reguler semakin tipis. Oleh karena itu, dorongan untuk mencari klub baru muncul bukan tanpa alasan. Bagi Zirkzee, menit bermain kini menjadi faktor krusial, terlebih menjelang persaingan menuju Piala Dunia 2026.
Roma dan Janji Awal Kebangkitan Karier
Ketertarikan AS Roma muncul sebagai respons langsung terhadap situasi tersebut. Klub Serie A itu melihat Zirkzee sebagai solusi instan untuk lini depan. Menurut laporan The Sun, Roma membuka pembicaraan serius dengan pihak sang pemain dan menawarkan jalan keluar yang realistis.

Gian Piero Gasperini bahkan memberi jaminan taktis. Ia menilai Zirkzee cocok dengan sistem 3-4-2-1 dan dapat dimainkan di beberapa peran dalam trio depan. Janji fleksibilitas ini menjadi faktor penting yang membuat opsi Zirkzee ke Roma terasa masuk akal, terlebih Serie A bukan lingkungan asing bagi sang penyerang.
Skema transfer yang dibahas juga cukup spesifik. Roma mengincar kesepakatan peminjaman selama enam bulan dengan kewajiban membeli pada musim panas senilai sekitar £35 juta. Secara finansial, angka ini hampir menutup investasi awal Manchester United.
Alasan Amorim Menahan Zirkzee
Namun, keinginan Zirkzee tidak serta-merta disetujui. Ruben Amorim memilih bersikap defensif. Ia menyadari bahwa Manchester United sedang kekurangan opsi menyerang. Absennya Amad Diallo dan Bryan Mbeumo karena Piala Afrika, ditambah potensi cedera pemain kunci, membuat setiap keputusan melepas pemain terasa berisiko.

Sikap Amorim juga konsisten dengan filosofi yang ia sampaikan ke publik. Ia menegaskan bahwa pemain hanya boleh pergi jika pengganti sudah tersedia. Dalam konteks ini, Zirkzee ke Roma bukan sekadar isu transfer, melainkan ujian atas manajemen skuad Manchester United.
“It’s going to be hard for someone to leave the club if we don’t get a substitution.
We are short. Even with the full squad we are short for something that can happen.
We are a club with a big responsibility. We are dealing with all these issues and in [the media’s] heads, in my head, in everybody’s head, we need to win every game.
It doesn’t matter. There are no excuses.”
Pernyataan tersebut dilaporkan oleh GOAL dan menjadi dasar utama mengapa Amorim enggan membuka pintu keluar terlalu cepat.
Faktor yang Membuat Transfer Januari Rumit
Di balik tarik ulur ini, terdapat sejumlah variabel yang saling berkaitan. Untuk memudahkan pembacaan, beberapa poin krusial berikut menjelaskan mengapa saga Zirkzee ke Roma tidak sederhana.

1. Keterbatasan kedalaman skuad
Manchester United menghadapi periode kompetisi padat dengan sumber daya terbatas. Oleh karena itu, melepas satu penyerang tanpa jaminan pengganti dapat menjadi bumerang.
2. Absennya pemain kunci
Piala Afrika membuat Amad Diallo dan Bryan Mbeumo tidak tersedia. Selain itu, Bruno Fernandes juga dilaporkan berpotensi absen akibat cedera. Kondisi ini mempersempit ruang gerak Amorim.
3. Filosofi anti panic buying
Amorim secara terbuka menolak belanja panik. Ia menilai kesalahan masa lalu Manchester United sering berawal dari rekrutmen tanpa perencanaan matang. Akibatnya, menahan Zirkzee dianggap sebagai opsi paling aman untuk jangka pendek.
Mengapa Zirkzee Tetap Berusaha Pindah
Di sisi lain, sudut pandang pemain juga tidak kalah rasional. Zirkzee membutuhkan panggung reguler. Dengan hanya empat kali tampil sebagai starter dan satu gol sejauh musim berjalan, posisinya di level internasional berisiko tergerus. Serie A menawarkan konteks yang lebih ramah, baik secara taktik maupun kepercayaan.

Selain itu, Roma bukan sekadar pelarian. Bersama Gasperini, Zirkzee berpeluang menjadi bagian penting dari sistem permainan, bukan sekadar pelapis. Maka, keinginan Zirkzee ke Roma lebih tepat dibaca sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan karier, bukan bentuk menyerah.
Tarik Ulur yang Menentukan Arah Manchester United
Situasi ini memperlihatkan dilema klasik klub besar. Di satu sisi, Manchester United tidak ingin melepas aset mahal tanpa kontrol. Di sisi lain, menahan pemain yang tidak mendapatkan menit bermain juga berisiko menurunkan nilai dan motivasi. Menurut laporan lanjutan GOAL, klub bahkan mempertimbangkan menunggu hingga fase akhir bursa transfer Januari sebelum mengambil keputusan final.

Artinya, saga ini masih jauh dari kata selesai. Zirkzee bisa saja bertahan setidaknya hingga Amad Diallo dan Bryan Mbeumo kembali, lalu pintu negosiasi dibuka ulang. Namun, setiap penundaan juga memberi sinyal bahwa Amorim sedang memilih jalan aman, bukan agresif.
Mainoo dan Sikap Amorim soal Kesabaran Pemain Muda
Selain Joshua Zirkzee, Kobbie Mainoo juga menjadi contoh bagaimana Ruben Amorim memandang manajemen pemain di tengah keterbatasan skuad. Gelandang muda Inggris itu disebut kesulitan mendapatkan menit bermain reguler musim ini, sehingga memunculkan spekulasi soal kemungkinan hengkang dari Manchester United.

Namun, Amorim mengambil pendekatan berbeda terhadap Mainoo. Ia menegaskan bahwa sang pemain tetap masuk rencana jangka panjang klub dan hanya perlu bersabar menunggu momentum. Menurut laporan GOAL, Amorim melihat fleksibilitas posisi sebagai kunci, termasuk kemungkinan Mainoo dimainkan dalam beberapa peran berbeda sesuai kebutuhan tim.
Pernyataan tersebut memperjelas konteks mengapa Amorim juga bersikap hati-hati dalam kasus Zirkzee ke Roma. Bagi pelatih asal Portugal itu, menjaga kedalaman skuad dan memberi ruang adaptasi dianggap lebih penting ketimbang membuka pintu keluar secara tergesa. Dalam kerangka ini, keputusan menahan Zirkzee bukan sekadar soal satu nama, melainkan bagian dari pola besar manajemen skuad Manchester United musim ini.
Ketika Semua Pihak Sama-Sama Benar
Pada akhirnya, konflik ini tidak menghadirkan pihak yang sepenuhnya keliru. Zirkzee wajar ketika mengejar menit bermain. Roma rasional saat menawarkan peran yang lebih jelas. Amorim pun masuk akal ketika menahan karena Manchester United sedang kekurangan kedalaman skuad. Namun, seperti biasa, sepak bola jarang memberi jalan tengah yang benar-benar nyaman bagi semua pihak.
Jika Zirkzee ke Roma benar-benar terjadi, itu akan menjadi kompromi yang lahir dari keterpaksaan, bukan perencanaan ideal. Jika tidak, Manchester United harus siap menerima konsekuensinya. Di situlah letak banternya. Klub sebesar United kembali dihadapkan pada dilema klasik, bertahan demi rasa aman jangka pendek atau melepas demi masa depan yang lebih jujur. Sementara itu, Zirkzee tidak menunggu drama besar, ia hanya menunggu satu hal yang selama ini sulit ia dapatkan di Old Trafford, kesempatan bermain yang nyata.