Ada perasaan ganjil yang menyelimuti Nottingham Forest musim ini. Di satu sisi, klub baru saja menghabiskan dana sekitar £180 juta untuk 13 pemain baru dan kembali mencicipi kompetisi Eropa setelah penantian tiga dekade. Namun di sisi lain, klasemen Premier League menunjukkan fakta yang jauh dari ideal. Forest berada di peringkat 17 dan hanya berjarak dua poin dari zona degradasi, membuat frasa Nottingham Forest terancam degradasi bukan lagi sekadar kekhawatiran berlebihan.
Situasi tersebut terasa kontras jika dibandingkan dengan musim lalu. Finish di posisi ke-7 dan lolos ke Europa League seharusnya menjadi fondasi untuk perkembangan bertahap. Akan tetapi, alih-alih stabil, Forest justru kembali berkutat dengan masalah lama yang kini diperparah oleh ekspektasi besar dan perubahan arah yang berulang.
Belanja Besar yang Belum Berbuah Konsistensi
Musim panas lalu, Forest bergerak agresif di bursa transfer. Di bawah pengawasan global sporting director Edu, klub merekrut 11 pemain permanen serta dua pemain pinjaman. Omari Hutchinson menjadi rekrutan termahal dengan nilai £37,5 juta, memecahkan rekor transfer klub. Douglas Luiz dan Oleksandr Zinchenko datang sebagai pinjaman dari Juventus dan Arsenal, menambah kesan ambisius dalam proyek jangka pendek.

Namun, menurut laporan BBC Sport, dari 13 pemain yang didatangkan hanya tiga yang mencatatkan lebih dari 10 kali starter di Premier League. Igor Jesus, Nicolo Savona, dan Dan Ndoye menjadi pengecualian di tengah banyaknya pemain yang masih kesulitan menembus tim utama. Kondisi ini membuat pertanyaan tentang efektivitas belanja besar semakin relevan, terlebih ketika Nottingham Forest terancam degradasi di paruh musim.
Perbedaan visi juga memperumit situasi. Edu mengincar pemain muda dengan nilai jual kembali, sementara manajer kala itu Nuno Espirito Santo memiliki preferensi berbeda, termasuk keinginannya merekrut Adama Traore alih-alih Hutchinson. Ketegangan internal semacam ini menjadi fondasi rapuh yang dampaknya baru terasa ketika hasil di lapangan tidak kunjung membaik.
Pergantian Manajer dan Efek Domino di Ruang Ganti
Masalah Forest tidak berhenti pada urusan transfer. Musim ini, Sean Dyche sudah menjadi manajer ketiga setelah kepergian Nuno dan singkatnya masa jabatan Ange Postecoglou yang hanya berlangsung 39 hari. Pergantian tersebut memaksa pemain beradaptasi dengan filosofi, staf, dan tuntutan yang berbeda dalam waktu singkat.

Dyche sendiri tidak menutupi frustrasinya. Seusai kekalahan 1-0 dari Braga di Europa League, ia menegaskan bahwa beberapa pemain belum menunjukkan kesiapan untuk bersaing secara konsisten. Dalam kutipan yang dimuat BBC Sport, Dyche mengatakan
“That’s my frustration, they are building that bit of energy and belief and then it goes flat in a performance.“
Komentar itu mencerminkan persoalan utama Forest musim ini. Ada kerja keras dalam latihan, namun sering kali tidak diterjemahkan menjadi intensitas dan keberanian di pertandingan. Ketika Nottingham Forest terancam degradasi, ketidakkonsistenan semacam ini menjadi risiko serius.
Malam di Braga yang Memperjelas Arah Musim
Kekalahan di Braga bukan sekadar hasil buruk di Eropa. Menurut analisis mendalam The Athletic, laga tersebut terasa seperti cerminan sempurna dari musim Forest sejauh ini. Dalam kurun kurang dari satu menit, Morgan Gibbs White gagal mengeksekusi penalti dan Ryan Yates mencetak gol bunuh diri. Sean Dyche menyebutnya sebagai “54 seconds of madness”.
Lebih dari itu, performa Forest di Portugal terasa datar dan tanpa urgensi. Mereka kalah dari tim yang bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran. Bagi para pendukung yang menempuh perjalanan panjang ke Braga, kekecewaan tersebut terasa menusuk, terutama setelah euforia di Seville pada awal kampanye Eropa.

The Athletic menyoroti bagaimana harapan yang semula membuncah perlahan terkikis. Dari petualangan Eropa yang romantis, Forest kini kembali dihadapkan pada realitas Premier League yang kejam. Dalam konteks ini, kekalahan di Braga seolah mempertegas bahwa Nottingham Forest terancam degradasi bukan sekadar narasi media, melainkan ancaman nyata.
Tantangan Skuad dan Keputusan Transfer yang Dipertanyakan
Beberapa keputusan transfer musim panas mulai dipertanyakan dampaknya. James McAtee, yang didatangkan hampir £30 juta dari Manchester City, baru sekali menjadi starter di liga. Dilane Bakwa juga belum menunjukkan pengaruh signifikan. Sementara itu, Arnaud Kalimuendo yang direkrut dengan biaya £26 juta justru dipinjamkan ke Eintracht Frankfurt setelah hanya sembilan penampilan sebagai pemain pengganti.
Situasi lini depan semakin pelik. Igor Jesus memang bekerja keras, namun dari delapan gol yang ia cetak, hanya satu yang datang di Premier League. Ketika ia cedera, Forest praktis kehilangan penyerang murni. Taiwo Awoniyi tidak terdaftar di skuad Eropa, memaksa Dan Ndoye bermain sebagai penyerang darurat.

Dalam wawancara dengan The Independent, Dyche mengakui klub sedang mencari solusi
“We’re certainly working on it. The club know, they’re aware. They can see the situation.”
Fokus Forest pada Januari jelas tertuju pada upaya menambah daya gedor, termasuk rencana mendatangkan Lorenzo Lucca dari Napoli dengan status pinjaman dan opsi permanen. Tanpa langkah konkret, risiko Nottingham Forest terancam degradasi akan semakin besar.
Area Krusial yang Menentukan Nasib Forest
Beberapa faktor utama menjadi penentu apakah Forest mampu keluar dari tekanan atau justru terjerumus lebih dalam.
Masalah adaptasi pemain baru
- Banyak rekrutan masih mencari ritme di Premier League
- Pergantian manajer membuat proses adaptasi semakin lambat
- Kurangnya penampilan konsisten menghambat terbentuknya hierarki tim
Minimnya kontribusi pemain pelapis
- Kesempatan di ajang piala dan Eropa belum dimanfaatkan maksimal
- Dyche menilai belum ada pemain yang benar benar “grip the game”
- Persaingan internal belum mendorong peningkatan performa

Ketergantungan pada inti skuad lama
- Pemain kunci musim lalu masih menjadi tumpuan utama
- Rekrutan baru belum sepenuhnya meningkatkan level tim
- Beban fisik dan mental meningkat seiring padatnya jadwal
Ketajaman lini depan yang belum terjawab
- Cedera dan registrasi pemain mempersempit opsi
- Kreativitas tidak selalu berujung peluang bersih
- Transfer Januari menjadi penentu arah sisa musim
Ketiga area ini saling terkait dan menentukan apakah Forest mampu menjauh dari zona bawah klasemen.
Tekanan Ekspektasi dan Bayang-bayang Masa Lalu
Forest adalah klub dengan sejarah besar. Warisan Brian Clough masih menjadi tolok ukur, meski secara realistis sulit untuk disamai. Namun, ekspektasi selalu melekat, terlebih setelah musim lalu yang nyaris sempurna.

Podcast host Forest Focus, Matt Davies, mengingatkan bahwa situasi saat ini berpotensi menjadi awal spiral menurun. Ia menilai bahwa tiga manajer sebelum November hampir pasti berdampak negatif pada stabilitas. Pernyataan tersebut sejalan dengan kekhawatiran bahwa Nottingham Forest terancam degradasi jika pelajaran dari musim ini tidak segera diambil.

Meski demikian, ada pula suara yang meminta kesabaran. Banyak pemain masih muda dan membutuhkan waktu untuk berkembang di lingkungan yang stabil. Masalahnya, Premier League jarang memberi ruang untuk proses panjang ketika hasil tidak kunjung datang.
Harapan, Realita, dan Keputusan Besar
Forest masih memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Europa League belum sepenuhnya berakhir, meski jalurnya semakin sulit. Di liga domestik, jarak poin yang tipis memberi ruang untuk bangkit jika konsistensi dapat ditemukan.
Namun, setiap pekan tanpa perbaikan nyata akan memperkuat narasi bahwa Nottingham Forest terancam degradasi karena kesalahan struktural, bukan sekadar nasib buruk. Sean Dyche membawa pengalaman dan pragmatisme, tetapi ia juga membutuhkan dukungan konkret dari skuad dan manajemen.
Pada akhirnya, musim ini mungkin bukan tentang seberapa mahal Forest berbelanja, melainkan seberapa cepat mereka belajar dari kekacauan yang ada. Jika tidak, £180 juta itu akan selalu dikenang bukan sebagai simbol ambisi, melainkan sebagai pengingat bahwa ekspektasi tinggi tanpa fondasi kuat bisa berubah menjadi beban. Dan di Premier League, beban semacam itu sering kali berakhir di tempat yang tidak ingin dikunjungi siapa pun.