Ruben Amorim, Proyek Besar yang Berakhir Terlalu Cepat

Eksperimen besar Manchester United bersama Ruben Amorim runtuh sebelum benar-benar menemukan bentuk. Proyek Ruben Amorim berakhir hanya dalam rentang 14 bulan, sebuah periode yang sarat ambisi, konflik internal, serta hasil yang tidak pernah sepenuhnya meyakinkan. Dari luar, kejatuhannya tampak tiba-tiba. Namun jika ditarik ke belakang, tanda-tanda kegagalan itu sudah muncul jauh sebelum keputusan pemecatan diambil.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Ruben Amorim sacked

Amorim datang bukan sebagai pengisi kursi sementara. Ia direkrut untuk membangun ulang identitas Manchester United pasca era Erik ten Hag. Namun ketika keyakinan taktik bertemu tekanan hasil dan ekspektasi klub raksasa, proyek Ruben Amorim berakhir lebih cepat dari rencana awal yang sempat digadang-gadang berlangsung tiga tahun.

Harapan Tinggi Saat Awal Penunjukan

Manchester United menunjuk Amorim pada November 2024 setelah memutuskan berpisah dengan Erik ten Hag, pelatih yang sebenarnya meninggalkan warisan 2 trofi domestik. Amorim datang dengan reputasi juara liga di Sporting CP, dikenal sebagai pelatih muda progresif dengan sistem permainan jelas dan struktur ketat.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_hari pertama di Old Trafford

Dari awal, klub menegaskan bahwa penunjukan ini adalah bagian dari proyek jangka menengah. Sir Jim Ratcliffe bahkan menyatakan keinginannya untuk memberi Amorim waktu panjang, membandingkannya dengan kesabaran Arsenal terhadap Mikel Arteta. CEO Omar Berrada juga menyamakan pendekatan Amorim dengan Pep Guardiola yang tetap teguh pada prinsipnya di masa awal Manchester City.

Namun Premier League jarang memberi ruang untuk adaptasi panjang tanpa hasil. Seiring waktu berjalan, jarak antara rencana dan realita semakin sulit disembunyikan.

Sistem Taktik yang Menjadi Akar Masalah

Salah satu benang merah utama mengapa proyek Ruben Amorim berakhir adalah sikapnya terhadap sistem permainan. Amorim secara konsisten mengandalkan formasi tiga bek, baik 3-4-3 maupun 3-4-2-1, terlepas dari karakter skuad yang ia warisi.

Masalahnya, Manchester United tidak dibangun untuk sistem tersebut. Wing-back yang diharapkan menjadi motor permainan tidak memberikan output maksimal, sementara lini tengah kerap kalah jumlah. Dorongan internal agar Amorim lebih fleksibel memang ada, namun tidak pernah benar-benar diterjemahkan ke dalam perubahan nyata di lapangan.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_formasi 3-4-3

Beberapa kali ia mencoba menyesuaikan pendekatan saat menghadapi Newcastle atau Wolves. Namun ketika tekanan meningkat, ia kembali ke pola awal. Keteguhan ini yang kemudian memicu ketegangan dengan struktur olahraga klub, terutama dengan direktur olahraga Jason Wilcox.

Musim Pertama yang Menggerus Kepercayaan

Hasil di musim pertama menjadi pukulan besar. Manchester United finis di peringkat ke-15, posisi terendah klub dalam lebih dari setengah abad. Meski demikian, Amorim sempat membawa United ke final Liga Europa 2025. Namun kekalahan dari Tottenham, tim yang bahkan memutuskan berpisah dengan Ange Postecoglou setelahnya, menambah daftar kekecewaan.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_

Kegagalan tersebut juga membuat United absen dari kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Ironisnya, keunggulan tanpa jadwal Eropa yang seharusnya menjadi keuntungan justru tidak dimanfaatkan secara optimal di musim berikutnya.

Statistik yang Sulit Dibantah

Secara angka, masa jabatan Amorim berada di titik nadir. Dari 63 pertandingan, ia hanya memenangkan 24 laga. Persentase kemenangan 38,7% menjadi yang terburuk bagi pelatih Manchester United sejak era Frank O’Farrell di awal 1970-an.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_full statistik di Manchester United

Lebih jauh lagi, setelah 20 laga liga di musim 2025/2026, United hanya berada di posisi enam besar. Banyak tim di atas mereka harus membagi fokus dengan kompetisi Eropa, sementara United gagal memanfaatkan waktu latihan ekstra yang mereka miliki.

Kekalahan memalukan dari Grimsby Town di Carabao Cup, yang menjadi kekalahan pertama United dari tim divisi empat dalam sejarah klub, semakin mempertegas bahwa ada yang salah dalam arah tim.

Transfer Besar dan Narasi Dukungan Penuh

Ketika proyek Ruben Amorim berakhir, muncul narasi bahwa ia tidak diberi pemain sesuai kebutuhannya. Namun laporan internal klub menyanggah hal tersebut. Manchester United menghabiskan lebih dari £216 juta pada musim panas 2025, menjadikan mereka salah satu pembelanja terbesar di liga.

Nama-nama seperti Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, Senne Lammens, dan Patrick Dorgu didatangkan. Sesko bahkan menjadi rekrutan termahal dengan banderol sekitar £74 juta. Klub juga menegaskan bahwa Amorim sepenuhnya sejalan dengan keputusan untuk memprioritaskan tiga penyerang dibanding mendatangkan gelandang baru.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, Patrick Dorgu, Senne Lammens

Dengan investasi sebesar itu, sulit membantah klaim bahwa Amorim mendapat dukungan finansial signifikan. Masalahnya, tambahan kualitas tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan performa tim.

Konflik Internal yang Meledak ke Publik

Situasi mencapai titik kritis jelang laga melawan Leeds. Dalam sebuah pertemuan internal, Amorim dilaporkan bereaksi keras saat Wilcox mempertanyakan efektivitas sistem yang terus ia gunakan. Diskusi yang semula dimaksudkan sebagai evaluasi progres berubah menjadi konfrontasi emosional.

Hasil imbang 1-1 melawan Leeds United sejatinya bukan hasil terburuk dalam catatan Manchester United musim itu. Namun konteks di balik pertandingan tersebut menjadikannya sangat menentukan. Leeds datang sebagai tim papan bawah, sementara United sedang berjuang menjaga jarak dengan pesaing zona Liga Champions.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_laga terakhir Ruben Amorim di Manchester United melawan Leeds United

Alih-alih meredam tekanan, Amorim justru memperbesar api setelah laga usai. Ia menyinggung isu dukungan dari level manajemen dan mempertanyakan perannya secara terbuka. Bagi sebagian pengamat internal, konferensi pers tersebut terdengar lebih seperti pernyataan perpisahan ketimbang evaluasi pertandingan.

I came here to be the manager of Manchester United, not to be the coach of Manchester United. That is clear.

Pernyataan ini, sebagaimana dilaporkan GOAL, menandai keretakan terbuka antara Amorim dan struktur klub. Kurang dari 24 jam kemudian, ia resmi dipecat.

Pernyataan ekstrem seperti menyebut skuadnya sebagai mungkin yang terburuk dalam sejarah klub semakin merusak hubungan internal. Christian Eriksen secara terbuka mengakui bahwa komentar tersebut tidak membantu kondisi mental pemain.

Faktor Kunci yang Mempercepat Akhir Proyek

1. Dogma Taktik yang Sulit Dinegosiasikan

Keteguhan Amorim terhadap satu sistem menjadi bumerang. Ketika hasil buruk datang bertubi-tubi, tidak ada rencana alternatif yang benar-benar dijalankan secara konsisten.

2. Komunikasi Publik yang Merusak

Alih-alih meredam tekanan, Amorim justru memperbesar sorotan dengan komentar keras di media. Hal ini mempercepat hilangnya dukungan, baik dari internal klub maupun publik.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Casemiro

3. Hasil yang Tidak Sejalan dengan Investasi

Dengan belanja besar dan minimnya jadwal Eropa, United seharusnya memiliki keunggulan kompetitif. Namun keuntungan tersebut tidak pernah terkonversi menjadi performa stabil.

Hubungan yang Retak dengan Pemain dan Akademi

Masalah Amorim tidak berhenti pada taktik dan hasil. Ia juga menuai kritik karena pendekatannya terhadap pemain. Marcus Rashford disingkirkan, Alejandro Garnacho tersisih, sementara Kobbie Mainoo jarang mendapat menit bermain.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Kobbie Mainoo, Garnacho, Rashford

Komentarnya terhadap pemain muda seperti Chido Obi dan Harry Amass juga dianggap meremehkan peran akademi, sebuah nilai historis yang sangat dijunjung Manchester United.

Pernyataan ekstrem seperti menyebut skuadnya sebagai mungkin yang terburuk dalam sejarah klub semakin merusak hubungan internal. Christian Eriksen secara terbuka mengakui bahwa komentar tersebut tidak membantu kondisi mental pemain.

Performa Kandang yang Menggerogoti Kepercayaan

Jika ada satu aspek yang paling membuat frustrasi, maka itu adalah performa Manchester United di Old Trafford. Dalam lima laga kandang terakhir sebelum pemecatan Amorim, United hanya mengumpulkan enam poin. Kekalahan dari Everton yang bermain 10 orang menjadi simbol betapa rapuhnya tim di rumah sendiri.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_

Hasil imbang melawan Wolves, West Ham, dan Bournemouth semakin mempertegas masalah konsistensi. Bahkan kemenangan atas Newcastle dinilai tidak sepenuhnya meyakinkan karena United ditekan habis-habisan di babak kedua. Dalam konteks klub sebesar Manchester United, rangkaian hasil tersebut sulit ditoleransi, terutama ketika datang dari tim-tim yang berada di papan bawah klasemen.

Kondisi ini membuat publik mulai mempertanyakan arah proyek. Ketika kandang tidak lagi menjadi benteng, kepercayaan terhadap pelatih akan runtuh lebih cepat, seberapa pun besar dukungan awal yang pernah diberikan.

Keunggulan Tanpa Eropa yang Terbuang Percuma

Absennya Manchester United dari kompetisi Eropa pada musim 2025/2026 seharusnya menjadi keuntungan besar. Dengan jadwal yang lebih longgar, Amorim memiliki waktu latihan lebih panjang dibanding rival-rival di atasnya. Namun keunggulan tersebut tidak pernah benar-benar terasa di lapangan.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_

Alih-alih menunjukkan peningkatan intensitas dan koordinasi, United justru tampil stagnan. Pola permainan mudah ditebak, transisi lambat, dan kesalahan individu terus berulang. Ketika tim-tim pesaing harus membagi fokus dengan Liga Champions atau Liga Europa, United gagal menciptakan jarak poin yang signifikan.

Fakta ini semakin menguatkan argumen internal klub bahwa proyek Ruben Amorim berakhir karena tidak adanya tanda-tanda evolusi yang jelas, meskipun kondisi eksternal sebenarnya menguntungkan.

Dugaan Keinginan Pergi dan Isu Self Sabotage

Menariknya, laporan dari media Inggris menyebut adanya keyakinan di internal klub bahwa Amorim sebenarnya ingin meninggalkan Manchester United. Beberapa sumber bahkan mengklaim ia melakukan self sabotage dengan melontarkan pernyataan kontroversial secara sengaja.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_

Meski klaim tersebut tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, narasi ini memperlihatkan betapa renggangnya hubungan antara pelatih dan klub di hari-hari terakhirnya. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan Amorim dianggap hanya akan memperpanjang ketidakpastian.

Keputusan Akhir dan Transisi Cepat

Manchester United menegaskan bahwa tidak ada perebutan kekuasaan. Namun mereka juga mengakui bahwa posisi Amorim telah menjadi tidak berkelanjutan. CEO Omar Berrada mengambil keputusan akhir setelah berdiskusi dengan Wilcox.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Omar Berrada, Wilcox, Sir Jim Ratcliffe

Darren Fletcher ditunjuk sebagai pelatih interim, meski klub menegaskan bahwa ia bukan kandidat jangka panjang. Fokus utama kini adalah mencari pelatih yang mampu bekerja dalam struktur kolektif klub. Oliver Glasner disebut sebagai kandidat kuat, sebagaimana dilaporkan GOAL.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_Darren Fletcher & Oliver Glasner

Mengapa Proyek Ini Tidak Bisa Diselamatkan

Jika dirangkum secara objektif, proyek Ruben Amorim berakhir karena akumulasi faktor. Ia datang dengan visi kuat, tetapi visi itu tidak cukup adaptif. Klub memang memiliki masalah struktural, namun dalam kasus ini, hasil di lapangan, statistik, serta dinamika internal menunjukkan bahwa perubahan arah dianggap sebagai pilihan paling logis.

Proyek Ruben Amorim berakhir_Bola Banter_

Bahkan analisis tajam menilai Amorim memegang peran besar dalam kejatuhannya sendiri. Pendekatan dogmatis, konflik terbuka, serta hasil yang tidak sebanding dengan dukungan klub menjadi kombinasi fatal. (GOAL)

Saat Prinsip Bertabrakan dengan Kenyataan

Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa reputasi dan keyakinan saja tidak cukup di klub sebesar Manchester United. Proyek Ruben Amorim berakhir karena jurang antara idealisme dan kebutuhan nyata terlalu lebar untuk dijembatani. Ia mungkin benar dalam mempertahankan prinsip, tetapi di Old Trafford, waktu dan kesabaran tidak pernah datang tanpa hasil nyata.

Dan di Manchester, proyek besar yang berjalan tanpa arah jelas jarang diberi kesempatan kedua. Amorim datang membawa mimpi, pergi membawa pelajaran, dan meninggalkan satu kesimpulan tak tertulis. Di klub sebesar United, keras kepala tanpa hasil bukanlah keberanian, melainkan undangan terbuka menuju pintu keluar.