Pergantian pelatih kembali terjadi di Stamford Bridge, dan kali ini sorotan tertuju pada Liam Rosenior di Chelsea. Datang di tengah musim dengan tekanan besar, Rosenior tidak diberi waktu untuk beradaptasi. Posisi Chelsea di liga berada di area rawan, performa tim naik turun, dan atmosfer klub belum sepenuhnya stabil.

Kekalahan dari Fulham menjadi gambaran situasi yang diwarisi Rosenior. Chelsea tidak sepenuhnya buruk, namun terlalu sering merugikan diri sendiri. Dari disiplin pemain hingga kegagalan menjaga keunggulan, ada enam hal utama yang harus segera dibenahi agar musim tidak berjalan semakin liar. (GOAL)
Masalah Disiplin yang Terus Berulang
Hal pertama yang harus dibenahi Liam Rosenior di Chelsea adalah disiplin pemain. Chelsea menjadi salah satu tim dengan kartu merah terbanyak musim ini, sebuah indikator lemahnya kontrol emosi dan pengambilan keputusan.

Insiden Marc Cucurella saat menghadapi Fulham, ketika ia menarik Harry Wilson sebagai pemain terakhir, mempertegas masalah ini. Pelanggaran semacam itu tidak hanya merugikan tim secara taktis, tetapi juga memukul mental pemain lain. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, Chelsea akan selalu bermain dengan risiko tinggi, bahkan saat laga masih berada dalam kendali.
Stamford Bridge yang Kehilangan Aura Kandang
Hal kedua berkaitan dengan performa kandang. Stamford Bridge tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan bagi lawan. Chelsea hanya meraih 4 kemenangan kandang musim ini, catatan yang membuat mereka terpuruk di papan tengah klasemen kandang.

Lebih jauh, atmosfer stadion kerap berubah negatif ketika permainan tidak berjalan mulus. Reaksi tribun terlihat memengaruhi kepercayaan diri pemain muda. Oleh karena itu, Liam Rosenior di Chelsea harus membangun kembali rasa percaya diri tim saat bermain di rumah sendiri, sekaligus meredam ketegangan antara pemain dan suporter.
Penurunan Performa Cole Palmer
Hal ketiga yang harus segera ditangani adalah performa Cole Palmer. Setelah sempat mengalami cedera, Palmer belum kembali ke level terbaiknya. Meski mencetak gol dalam beberapa laga, kontribusinya dalam permainan terbuka menurun drastis.

Palmer bahkan sempat mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya fit. Kondisi ini membuat Chelsea kehilangan kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Bagi Rosenior, mengembalikan Palmer ke performa optimal menjadi kunci, karena tanpa versi terbaiknya, serangan Chelsea cenderung tumpul dan mudah dibaca lawan.
Dominasi Penguasaan Bola yang Tidak Efektif
Hal keempat menyangkut gaya bermain. Chelsea sering menguasai bola, namun gagal mengubah dominasi tersebut menjadi peluang dan gol. Beberapa laga penting berakhir tanpa kemenangan meski mereka memegang kendali permainan.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi pelatih dengan kecenderungan sepak bola berbasis penguasaan bola. Liam Rosenior di Chelsea harus menemukan cara agar sirkulasi bola memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar menjaga statistik penguasaan.
Alejandro Garnacho yang Belum Maksimal
Hal kelima berkaitan dengan pemanfaatan pemain sayap, khususnya Alejandro Garnacho. Meski direkrut dengan harga relatif murah, kontribusinya sejauh ini masih inkonsisten. Ia kerap menghilang dalam pertandingan dan beberapa kali melakukan kesalahan posisi saat bertahan.

Garnacho bahkan sempat kehilangan tempat di skuad inti menjelang akhir masa Enzo Maresca. Dengan reputasi Rosenior sebagai pelatih pengembang pemain muda, publik menanti apakah era Liam Rosenior di Chelsea bisa menjadi titik balik bagi karier sang winger.
Ketidakmampuan Menjaga Keunggulan
Hal keenam, sekaligus paling krusial, adalah kegagalan Chelsea mempertahankan keunggulan. Musim ini, mereka termasuk tim dengan jumlah poin hilang terbanyak setelah unggul lebih dulu. Pola ini menunjukkan kurangnya kedewasaan dalam mengelola pertandingan.

Chelsea sering kehilangan kontrol di fase akhir laga, baik karena kesalahan individu maupun keputusan taktis yang terlambat. Jika kebiasaan ini tidak dihentikan, tekanan terhadap Rosenior akan meningkat dengan cepat, terlepas dari kualitas permainan yang ditampilkan.
Arah Masa Depan di Tangan Rosenior
Enam hal yang harus dibenahi ini menjadi peta tantangan awal Liam Rosenior di Chelsea. Tidak ada satu pun yang bersifat kosmetik, semuanya menyentuh fondasi performa tim. Jika Rosenior mampu memperbaiki disiplin, menghidupkan kembali Stamford Bridge, serta membuat Chelsea lebih efektif dan matang, maka kepercayaan publik bisa tumbuh perlahan.
Namun Chelsea bukan klub yang sabar. Di Stamford Bridge, progres harus terlihat cepat, bukan sekadar dijanjikan. Rosenior boleh datang dengan ide dan reputasi pengembang pemain, tetapi pada akhirnya, hanya satu hal yang akan menjadi ukuran. Apakah enam masalah ini benar-benar dibenahi, atau hanya berganti nama di papan taktik.
One thought on “Enam Hal yang Harus Dibenahi Liam Rosenior di Chelsea”
Comments are closed.